Selasa, 31 Maret 2009

Demokrasi Bukanlah Hanya 9 april 2009


Indonesia kini sedang panas dengan iklim politik yang ada. 9 april 2009 adalah puncak dari pertarunga ini. Pertarungan para petarung-petarung politik bangsa ini. Petarung yang dominan ingin merebut kekuasaan legislatif. Pertarungan janji-janji 'politik' yang kemudian diharapkan dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik, demi kesejahteraan umat.
Lebih dari 8 ton surat suara yang telah diproduksi, milayaran bahkan triliunan uang negara telah dikeruk. Namun apakah hal ini akan sesuai dengan substansi dan expectasi real dari demokrasi???
apakah kesejahteraan bangsa akan menjadi tujuan utama pasca pemilu 2009?? pertanyaan yang kemudian perlua kita telaah bersam-sama.
Demokrasi selalu kita indentikan dengan pemilu.Pilpres,pilgub,pileg dan berbagai macam prosesi pemilihan penguasa bangsa yang menentukan dinamika kekuasaan bangsa ini. 10 tahun sudah reformasi ini berjalan. 10 tahun sudah demokrasi pasaca reformasi kita lalui bersam-sama. Namun kesejahteraan bangsa ini mash saja hanya sekedar janji-janji politik yang selalu diumbar pemimpin bangsa. Rakyat hanya dijadikan sebagai gudang suara yang dimana kemudian rakyat hanya dijadikan sebagai alat untuk mengangkat popularitas segelintir orang yang tak bertanggung jawab, segelintir bahkan dominan para politisi yang hanya berorientasi pada kedudukannya kemudian di legislatif.
Substansi dari sebuah sistem demokrasi bukan hanya terletak pada bagaiman prosisi pemilihan para elit-elit politik bangsa ini. Tetapi bagaimana proses-proses demokrasi bangsa ini kedepan. Proses demokrasi yang bertujuan untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Rakyat tak lagi butuh dengan janji-janji politik yang hanya mensurgakan pedengaran. Mereka sudah lelah dengan hal-hal yang berbau kebohongan dan kemunafikan.
Kedepan diharakan bahwa, pasca pemilu ini kemudian dapat dijadikan sebaia batu loncatan yang dapat mengawal proses-proses yang ada nanti pada saat pemilu 2009. Realisasi janji politik yang ada, nanti buakan lagi hanya tulisan-tulisan indah dalam selembar kertas, melainkan janji-janji tersebut termaktub dalam kehidupan bermasyarakat yang ada di bangsa ini, bangsa yang sangat kita cintai. Tapi pertanyaan yang kemudian mampir dalam benak kita adalah siapa yang mengawal proses demokrasi kedepan, pasca 9 april 2009??? Pertanyaan ini saharus menjadi tamaparan keras bagi bangsa ini. Karena selama ini kita hanya orang-orang yang mendewakan demokrasi,tapi kemudian terlena dengan dilematis kebodohan kita.
Kaum intelektual yang seharusnya diharapakn sebagai garda terdepan pengawal demokrasi, ternyata telah banyak diracuni dengan kegiatan-kegiatan politik kotor yang ada. Sehingga tak jarang kita lihat kemudian banyak kegiatan organ-organ mahasiswa yang ada, beberapa telah dirasuki muatan-muatan politik praktis para elit-elit politik bangasa ini. Rakyat yang kemudian sebagai subjek sekaligus objek dari kebijakan yang ada nantinya seharusnya menjadi pengawal proses demokrasi. Mahasiswa yang memiliki kapasitas pengetahun yang lebih, seharusnya melakukan proses panyadaran demokrasi kepada rakyat, sehingga nantinya tak ada lagi pemdohan politik dibangsa ini. Menuju kehdupan masyarakat yang adil makmur.

Tidak ada komentar: